Prospek ekonomi dunia tahun 2026 diproyeksikan akan menunjukkan ketahanan meskipun dibayangi oleh perlambatan pertumbuhan dan ketidakpastian geopolitik yang tinggi. Mayoritas lembaga internasional memperkirakan pertumbuhan global akan berada di kisaran 2,6% hingga 3,3%. Faktor Pendorong dan Penahan Ekonomi di antaranya adalah:
- Investasi Teknologi & AI: Sektor teknologi, terutama pengembangan AI, menjadi motor penggerak utama pertumbuhan di negara maju dan beberapa wilayah di Asia.
- Normalisasi Kebijakan Moneter: Penurunan suku bunga secara bertahap oleh bank sentral global diharapkan mulai memberikan ruang napas bagi konsumsi dan investasi.
- Risiko Geopolitik & Perdagangan: Ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional, tarif, dan konflik regional tetap menjadi risiko penurunan (downside risks) utama.
- Inflasi Dunia: Tekanan harga global diperkirakan terus menurun menjadi sekitar 3,8% di tahun 2026, mereda dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada segmen Sektor industri pertimahan secara global pada tahun 2026 berada dalam fase “Bull Run” (tren kenaikan kuat) yang didorong oleh ketimpangan/gap antara pasokan yang terbatas dan lonjakan permintaan teknologi masa depan. Timah kini dianggap sebagai material strategis yang krusial bagi transisi digital dan energi hijau. Adapun proyeksi kondisi Pasar & Harga Global di tahun 2026 yaitu sebagai berikut:
- Defisit Pasokan: Pasar diperkirakan akan mengalami defisit pasokan mulai tahun 2026 karena pertumbuhan produksi olahan (~3%) tidak mampu mengimbangi kenaikan permintaan (~3,5%).
- Lonjakan Harga: Harga timah di London Metal Exchange (LME) mencatat rekor tertinggi di awal 2026, mencapai sekitar $53.400 per ton, naik 75% dibandingkan periode yang sama di tahun 2025.
- Proyeksi Tahunan: Lembaga riset BMI (Fitch Solutions) merevisi rata-rata harga tahunan 2026 menjadi $35.000 per ton (dari estimasi sebelumnya $32.000).
Hal-hal diatas sangat dipengaruhi dari beberapa dinamika terhadap produsen utama sebagai sisi suplai rantai pasok timah global, di antaranya yaitu:
- Indonesia: Mengalami pemulihan bertahap dengan peningkatan kuota ekspor resmi menjadi 60.000 ton pada 2026, setelah periode pengetatan tata kelola tambang.
- Myanmar: Pasokan dari negara produsen terbesar ketiga ini masih diliputi ketidakpastian akibat izin pertambangan di wilayah Wa State yang baru mulai beroperasi kembali secara terbatas.
- Tiongkok: Tetap mendominasi produksi timah olahan dunia (sekitar 50% pangsa pasar), namun menghadapi tantangan penurunan kadar bijih timah di wilayah Yunnan.
- Republik Demokratik Kongo (DRC): Produksi dari tambang Bisie yang dioperasikan oleh Alphamin Resources menunjukkan kinerja kuat, memberikan sedikit kelonggaran pada ketatnya suplai global.
Sedangkan Sektor Pendorong Permintaan sebagai sisi Demand yang mempengaruhi prospek usaha di tahun 2026 yaitu:
- Solder Elektronik: Konsumsi utama timah (~50%) tetap didominasi oleh industri solder untuk papan sirkuit.
- Infrastruktur AI: Pertumbuhan pusat data kecerdasan buatan memicu lonjakan permintaan semikonduktor, yang secara langsung meningkatkan kebutuhan timah untuk koneksi antar komponen.
- Energi Terbarukan: Penggunaan timah dalam solar ribbon pada panel surya fotovoltaik tumbuh pesat seiring target dekarbonisasi global.
- Kendaraan Listrik (EV): Peningkatan jumlah komponen elektronik dan sistem manajemen daya pada EV menjadi pendorong permintaan jangka panjang yang signifikan.
Di tingkat domestik, kebijakan hilirisasi mineral yang terus dicanangkan pemerintah memberikan peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah produk dan memperkuat posisi industri dalam rantai pasok global. Program hilirisasi ini juga diharapkan dapat menciptakan multiplier effect bagi perekonomian nasional melalui penguatan sektor industri dan penciptaan lapangan kerja. Perseroan memproyeksikan prospek usaha tahun 2026 dapat lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan mengandalkan sejumlah sektor pendorong. Hilirisasi produk timah menjadi salah satu prioritas utama, termasuk pengembangan produk bernilai tambah sebagai salah satu pilar penting ekonomi negara dalam hal melanjutkan hilirisasi sumber daya alam dan mineral dalam prioritas nasional Indonesia.